Langsung ke konten utama

OPINI

Menjadikan Sekolah sebagai Rumah Kedua

Di dalam bahasa Inggris rumah berarti house atau home. Kedua kata tersebut sama-sama kata benda (noun) yang berarti rumah, namun secara pengertian keduanya memiliki arti yang berbeda. Kata house berarti sebuah bangunan yang terdiri dari atap, dinding, pintu, jendela, lantai, dsb. Bangunan tersebut biasanya digunakan sebagai tempat untuk berteduh dari teriknya sinar matahari dan berlindung dari basah serta dinginnya hujan. Kesimpulannya, kata house lebih merujuk pada sebuah bangunan tempat bernaung. Sedangkan kata home meskipun memiliki arti sama, yaitu rumah, namun di dalam pengertiannya memiliki perbedaan yang sangat signifikan, yaitu berarti tempat tinggal yang aman, tenang, di mana kita bisa merasakan pulang dan menyandarkan tubuh dari segala rutinitas luar, menyandarkan hati dan pikiran kita serta tempat istirahat bagi keduanya. Ada sebuah pepatah mengatakan, “House is built by hand, but home is built by heart.” Sehingga belum tentu sebuah house merupakan sebuah home, namun sebuah home bisa jadi itu house.

Untuk menjadikan sekolah sebagai rumah kedua berarti menjadikan sekolah sebagai home, sedangkan house adalah sekolah itu sendiri. Oleh karena itu, merujuk pada pengertian home menurut pepatah di atas, para pengajar serta individu lain yang bertanggung jawab atas pendidikan siswa harus mampu menempatkan hati sebagai dasar pondasi metode pengajaran mereka. Dalam hal ini sebagai implikasinya, mereka seharusnya mampu mengubah diri-diri mereka menjadi figur orang tua yang bijak dan penyayang serta figur teman yang pengertian dan peduli.

1. Menjadi Figur Orang Tua yang Bijak dan Penyayang

Untuk menjadi figur orang tua yang memiliki sikap bijak dan penyayang seorang guru dituntut memiliki kesabaran yang lebih, karena kesabaran merupakan kunci utama yang harus dimiliki oleh orang tua. Selain itu, seorang guru harus memiliki kasih sayang yang besar dan tulus bagi siwa-siswanya, namun tegas pada saat menerapkan kedisiplinan. Dengan demikian, seorang pengajar harus mampu:

a. Menemukan inti permasalahan

Seorang pengajar/guru dituntut mampu mengenali dan memahami karakteristik, keinginan, kemauan, dan kepribadian siswa (anak), sehingga seorang guru tahu apa yang dibutuhkan atau inti permasalahan jika ia (siswa) memiliki masalah. Hal ini harus dimiliki karena terkadang seorang anak sulit untuk menyampaikan permasalahannya, karena mungkin atas pertimbangan berbagai faktor. Untuk mencari dan menemukan inti permasalahan tersebut maka bertanyalah bukan dari mulut, namun dari hati. Misalnya, pada saat seorang siswa melakukan kesalahan, atau dia berbuat nakal, maka temukanlah inti permasalahan itu bukan dengan bentakan, makian, apa lagi pukulan, namun bertanya dari hati ke hati, apa yang menyebabkan ia berbuat nakal pada waktu-waktu yang tepat untuk bicara.

b. Pecahkan permasalahan

Jika inti permasalahan telah ditemukan maka pahamilah dan pecahkanlah. Berikan pemahaman bahwa yang ia lakukan adalah salah dan semakin ia berbuat nakal, akan semakin sulit permasalahannya. Jika ia paham dan sadar akan kesalahannya, berilah ia hukuman bukan karena ia seorang yang nakal, namun karena kasih sayang dan memahamkan suatu pembelajaran.

c. Hindari pukulan dan makian

Seharusnya sedapat mungkin pukulan dan makian terhadap siswa tingkat manapun dihindari, karena tidak ada output yang baik jika inputnya jelek. Pukulan dan makian terhadap siswa atau anak hanya akan menimbulkan trauma yang menahun, bahkan dendam kesumat, yang ujung-ujungnya pada kenakalan anak atau remaja, karena secara tidak langsung siswa telah diajarkan cara-cara kekerasan dan membentuk individu yang mencintai kekerasan, bahkan lebih parah lagi terjadi brain damage pada siswa.

d. The power of touch

The power of touch atau kekuatan sentuhan. Sebaiknya hal ini jangan disepelekan karena sentuhan mengandung arti empati, memahami, kasih sayang, menenangkan, dan peduli. Coba kita bayangkan jika ada seseorang yang menepuk pundak kita pada saat kita dirundung duka, kita akan merasakan empati dari orang tersebut. Tunjukkanlah empati, kasih sayang, kepedulian, melalui sentuhan lembut, sehingga siswa merasa dipahami dan ia pun akan merasa tenang.

e. Tidak risi atau sungkan meminta maaf

Meminta maaf adalah hal yang mulia untuk dilakukan, bahkan menunjukkan ke-gentle­-an. Oleh karena itu, meskipun kepada siswa, jika seorang pengajar/guru berbuat salah seharusnya ia meminta maaf, bukan untuk menjadikannya besar kepala, namun mengajarkan tanggung jawab atas segala kesalahan dengan meminta maaf.

f. Menjadi model itu sendiri

Memberikan pengajaran kepada siswa, baik itu subjek pelajaran maupun berakhlak mulia, seharusnya disertai model yang tidak lain adalah guru itu sendiri. Karena seorang guru merupakan figur yang menjadi percontohan siswa selama di sekolah.

2. Menjadi Figur Teman yang pengertian dan Peduli

Menjadi figur orang tua yang bijak dan penyayang tidaklah cukup, perlu sesuatu yang membuat anak dapat menyandarkan keluh kesahnya tanpa merasa segan atau malu-malu. Karena bagaimanapun antara siswa dan gurunya terpaut usia yang mungkin jauh. Oleh karena itu, seorang guru harus mampu mentransform dirinya menjadi seorang yang mampu menjadi seorang teman. Hal tersebut berarti guru harus mampu terjun bebas ke dalam dunia anak-anak didiknya. Dengan demikian, seorang guru mampu berinteraksi dengan siswanya, baik di sekolah, di jam pelajaran maupun di luar sekolah atau di luar jam pelajaran, untuk itu perlu langkah-langkah berikut.

a. Memahami warna-warni dunia anak dan remaja

Dunia anak dan remaja memiliki corak warna-warni yang cerah, hal itu yang membuat hidup mereka selalu bergairah, atraktif, berani, menggebrak, imajinatif, namun terkadang labil. Seorang guru seharusnya memahami dunia warna-warni tersebut, sehingga tahu apa yang dibutuhkan oleh siswa ketika mereka mempunyai masalah. Untuk memahami dunia tersebut seorang guru dapat flash back ke masa-masa remaja dan merasakan setiap jengkalnya.

b. Mengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan siswa

Dengan mendalami dan memahami warna-warni dunia anak-remaja, maka seorang guru akan tahu apa sebenarnya yang diinginkan dan dibutuhkan siswa, sehingga tahu bagaimana menghadapi siswanya. Misalnya, seorang siswa prestasinya tidak pernah berkembang di dalam bidang pelajaran A, B, dab C. Jangan dulu langsung mencapnya sebagai siswa pemalas atau bodoh, lihatlah dulu, perhatikan, dan temukan apa alasan di balik itu.

c. Menjadi pendengar yang hebat

Di sinilah salah satu makna emas dari diam. Seringnya seseorang ingin didengarkan dan sedikit sekali yang ingin mendengarkan. Hal tersebut karena setiap orang ingin menjadi peran utama, singkatnya karena dorongan egoisme. Tanggalkanlah egoisme tersebut dan belajarlah mendengarkan, bukan pura-pura, namun secara saksama seakan peduli apa yang dibicarakannya. Pandanglah wajah dan matanya pada saat ia bicara untuk menunjukkan keantusiasan atau empati terhadap ceritanya,

d. Menjadi teman curhat

Menjadikan guru sebagai teman curhat siswa adalah sesuatu yang agak sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, jika seorang guru telah mampu memahami warna-warni dunia siswa, maka seorang guruu akan tahu apa yang diinginkan dan dibutuhkan siswa dan ia pun akan menjadi pendengar hebat terhadap keluh kesah siswanya, maka jadilah ia teman curhat yang menyenangkan. Setelah semua itu dikuasai, barulah peranan guru ditonjolkan, yaitu memberikan nasihat yang tepat.

e. Memberikan nasihat yang tepat

Peranan guru setelah ia mampu menguasai keempat poin di atas adalah meberikan nasihat yang tepat, dalam artian memahami permasalahan siswa jika ia memiliki permasalahan dan membantunya memecahkan permasalahan tersebut tanpa merasa digurui, atau bahkan diomeli.

Menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bukanlah faktor fasilitas yang memadai, hal itu hanyalah nomor dua, namun peranan guru-gurulah yang menjadi faktor utamanya karena mereka adalah pihak yang berinteraksi langsung dengan para siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan seorang guru yang komit di dalam mendidik anak-anak didiknya, konsisten menegakkan dan menjaga idealisme guru – seorang yang bertanggung jawab atas masa depan anak-anak didiknya, dan disiplin di dalam mengatur diri sendiri juga anak-anak didiknya. Dan seharusnya tidak melulu money oriented. Jika, seorang siswa telah menganggap sekolahnya sebagai rumah kedua baginya, maka berbagai bentuk materi lambat laun akan mengalir tanpa henti, tanpa terbendung. Masih ingatkah dengan tokoh Bu Mus (Ibu Muslimah) salah satu tokoh di dalam film Laskar Pelangi? Tanpa berharap materi dan hanya berambisi mendidik anak-anak didiknya supaya menjadi anak-anak hebat, beliau mampu menciptakan sekolah ‘gudang kopra’nya yang telah hampir rubuh menjadi rumah kedua bagi kesepuluh anggota Laskar Pelangi, dan kini beliau dikenal di seluruh jagad nusantara bahkan mungkin negara-negara lainnya.

Anak-anak didik bagi seorang guru merupakan amanah sekaligus investasi, maka junjunglah tinggi pendidikan berkualitas Indonesia. Mari kita ciptakan sekolah sebagai rumah kedua bagi siswa-siswi kita untuk membangun masa depan negeri yang cerah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Positive Thinking! Itu yang Kita Butuhkan

Kehidupan di dunia saat ini semakin berat dan menantang dari hari demi hari, khususnya di negara yang katanya kaya akan sumber daya alamnya ini pun sebagian rakyatnya menjerit tergilas laju perekonomian yang tidak berpihak pada mereka (rakyat kecil). Si kaya tambah kaya dan si miskin tambah miskin. Sedangkan janji-janji pemerintah tentang pengentasan kemiskinan seolah menjadi uporia saja, padahal perut butuh diganjal nasi bukan basa basi. Tidak heran jika setiap ada pembagian zakat atau daging qurban selalu terjadi kekacauan, masyarakat banyak yang berebut tanpa mempedulikan siapa yang mereka dorong atau injak, demi mendapatkan beberapa lembar puluhan ribu rupiah atau sekantung daging mereka menjadi beringas tidak peduli lagi mana kawan atau saudara. Akibatnya banyak berjatuhan korban hingga korban jiwa. Bukan masyarakat miskin saja yang merasa tertekan akan dampak kerasnya kehidupan dan banyaknya kebutuhan hidup, namun aparat pemerintah pun turut pula resah, sehingga segala upaya pun ...

Buanglah Sampah di Mana Saja

By Omettokun sumber gambar: http://majarimagazine.com Polemik Permasalahan Sampah yang Meradang di Kota Kembang Sebelum terkenal sebagai pusat belanja aneka produk distro dan FO, Bandung terkenal dengan julukan Kota Kembang, karena keindahan kota yang bersih, asri, sejuk, dan tentu saja berbunga. Pada saat ini pun pemerintah kota Bandung telah mencanangkan Bandung sebagai kota yang bermartabat, yaitu kota yang bersih, makmur, dan bersahabat. Dan belum lama ini pemkot juga tengah berusaha menetapkan Bandung menjadi kota yang religious. Dengan segala embel-embel yang diberikan kepada kota ini, seharusnyalah Bandung menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali, baik di mata maupun dirasa. Akan tetapi, beberapa waktu yang lalu Kota Kembang ini pernah menyandang kota sampah karena pemerintah telah gagal dalam menanggulangi sampah, setelah tragedi Leuwi Gajah.

How to Develop Your Reading Skill

By: Omettokun Membaca merupakan kegiatan yang sederhana dan mudah. Siapapun dapat membaca jika ia tidak buta huruf. Akan tetapi, membaca yang benar, memahami benar bahan bacaannya dan menjadikan membaca sebagai kegiatan harian tentu saja tidak semua orang melakukannya, apalagi yang menjadi bahan bacaannya adalah bahasa asing seperti bahasa Inggris. Orang yang hobi baca sekalipun belum tentu ngeuh untuk melahap materi berbahasa asing. Kendati demikian, saat ini penguasaan bahasa Inggris menjadi salah satu kriteria yang harus dikuasai oleh setiap orang, baik secara lisan maupun tulisan. Dengan demikian, bahasa Inggris telah menjadi bahasa yang tidak asing meskipun masih dalam setatus asing.