Langsung ke konten utama

Sejarah Sepeda

Dilihat dari perjalanan sejarahnya, kendaraan roda dua ini tidak diciptakan oleh satu orang saja, namun oleh beberapa orang dengan pengembangan ide masing-masing, namun ide kendaraan angin ini mulai tercetus sekitar abad ke-15, yaitu dimulai dari rancangan seorang pelukis terkenal dari Itali, Leonardo da Vinci. Seniman dan juga pemikir hebat yang dikenal dengan lukisann Mona Lisa-nya ini juga terkenal karena aneka rancangan gagasannya, seperti rancangan mesin tempur, mesin terbang, kendaraan dan sebagainya. Akan tetapi, sayangnya Da Vinci tidak pernah sempat merealisasikan sketsa rancangannya, termasuk rancangan tentang sepeda.

Orang mulai serius mengembangkan rancangan yang digawangi oleh Leonardo Da Vinci diperkirakan dimulai pada abad ke-19, yaitu sekitar tahun 1800an. Dimulai dengan sebuah kerangka kayu beroda dua, menyerupai sepeda, namun tidak berpedal. Dengan kata lain dijalankan dengan mengayunkan kaki ke tanah layaknya memainkan atau mengendarai otopet. Kendaraan tersebut muncul pada tahun 1816 yang diberi nama draisine dan juga dianggap sebagai perkembangan penting dalam sejarah yang lebih maju dari sejarah sepeda. Kemudian, pada tahun 1839, seorang pandai besi berkebangsaan Skotlandia, bernama Kirkpatrick Macmillan berhasil menciptakan sepeda dengan desain lebih maju dari yang sebelumnya, yaitu memiliki stang, palang batang, dan pedal pengayuh untuk menjalankannya, namun kedua rodanya masih berbahan kayu. Akan tetapi, meskipun banyak orang menganggap karya Macmillian sebagai desain awal sepeda masa kini, sayangnya rancangan sang pandai besi ini tidak begitu popular.
Pada tahun 1870an adalah tahun bagi sepeda beroda depan besar. Konon besarnya roda depan tersebut untuk menyiasati kecepatan laju sepeda, sedangkan roda kecil di belakangnya berperan sebagai penyeimbang sepeda. Sepeda beroda besar yang dikenal dengan nama highwheeler ini terus dikembangkan oleh seorang berkebangsaan Inggris bernama James Starley yang membuat Ariel pada tahun 1872. Berbeda dengan rancangan Macmillian, rancangan sepeda karya Starley memiliki pedal yang menyatu sengan hub roda depan. Pemasangan roda depan yang berdiameter 1,5 meter ini bertujuan untuk mempercepat laju sepeda, sedangkan fungsi roda belakang yang berdiameter 41-46cm berfungsi, bukan hanya sebagai penyeimbang juga untuk meringankan kayuhan pesepeda pada saat mengayuh sepedanya. Sayangnya, meskipun rancangan Starkey ini terkenal mulai dari Inggris hingga Amerika dan banyak digunakan di jalanan di Inggris, namun sayangnya sepeda ini tidak memiliki standar keamanan, bahkan si pengendara selalu merasa kesulitan, baik pada saat menaiki dan juga menuruninya. Kecelakaan fatal yang sering terjadi pada pengendara highwheeler ini adalah terjungkal ke tanah dengan kepala terlebih dahulu mencium tanah, cukup fatal memang.

Para ilmuwan terus berinovasi mengembangkan kendaraan yang didasari oleh ide Leonardo da Vinci ini. Sadar akan kekurangnyamanan highwheeler, pada tahun 1870an mulailah diperkenalkan sepeda yang memiliki roda yang sama besar, baik depan maupun belakang. Seorang berkebangsaan Inggris bernama H. Bates of Croyden berhasil menciptakan kendaraan roda dua bertranmisi, yaitu memiliki kerekan dan tali yang menghubungkan pedal dengan roda belakang, seperti halnya sepeda pada masa kini. Bates menamai karyanya ini the Flying Dutchman. Rancangan Bates kemudian dikembangkan oleh Henry J. Lawson dengan menciptakan sepeda yang telah menyerupai sepeda masa sekarang. Henry mengganti kerekan dan tali yang menghubungakan pedal dengan roda belakang dengan rantai. Rantai tersebut dikaitkan pada gir depan (sprocket) yang menghubungkannya dengan roda belakang.

Sekitar tahun 1885 C. A. Linley dan J. Biggs memperkenalkan sepeda rancangan mereka yang diberinama the Whippet. Frame atau batang sepeda tersebut sudah menyerupai sepeda masa kini, yaitu berbentuk belah ketupat atau jajaran genjang, dengan disertai dudukan untuk sadel, pedal dan stang (handlebar). Akan tetapi, yang menarik dan membuatnya terkenal adalah batang sepeda ini yang disertai pula dengan dua per yang berfungsi sebagai shock breaker, atau peredam kejutan pada jalanan berbatu atau berlubang. Kemudian, pada tahun 1889 John B. Dunlop mengembangkan roda ban berisi angin (pneumatic). Roda tersebut kemudian dipasangkan pada sepeda untuk menambah kenyamanan dan keselamatan berkendara. Setelah itu, bermunculanlah aneka inovasi dalam menciptakan sepeda yang nyaman dan aman untuk dikendarai, khususnya sebagai kendaraan harian. Misalnya, penggunaan pelor roda untuk mengurangi pergeseran bagian-bagian yang bergerak, penambahan gigi untuk kecepatan, sistem pengereman, sampai pemindah gigi.

Sejak tahyn 1890an virus semakin merebak di mana-mana, khususnya daratan Eropa, baik untuk keperluan harian atau sebagai bagian dari gaya hidup. Berbagai inovasi pun terus dipacu dan dikembangkan hingga saat ini, perkembangan tersebut terus berlanjut. Para pecinta sepeda dan para pengembang sepeda seolah tidak pernah berhenti pada satu titik saja. Saat ini kita mengenal beberapa kelompok pecinta sepeda, mulai dari penggemar sepeda ontel, low rider, free style, bahkan pixie. Jenis sepeda yang digunakan pun macam-macam dan unik, khususnya kelompok low rider yang mengembangkan sendiri desain sepedanya seunik dan semenarik mungkin. Ada pula pixie menempati jenis baru di jagad pergowesan, yaitu sepeda single speed, dengan batang mirip sepeda balap dan tanpa rem sama sekali. Uniknya sepeda yang ngetren di kalangan anak muda ini memiliki freewheel yang berbeda dengan sepeda pada umumnya, yaitu dapat diputar ke belakang, sehingga bagi yang belum terbiasa akan kesulitan pada saat mengendarainya karena tidak dapat mengistirahatkan kaki pada saat bosan mengayuh. Terlepas dari bermunculannya komunitas pesepeda dan varian baru kereta angin ini, sepeda mulai menemukan kembali geliatnya di tengah budaya konsumtif dan manja masyarakat kota akan kebutuhan transportasi yang memilih kendaraan bermotor sebagai alat berkendara harian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Positive Thinking! Itu yang Kita Butuhkan

Kehidupan di dunia saat ini semakin berat dan menantang dari hari demi hari, khususnya di negara yang katanya kaya akan sumber daya alamnya ini pun sebagian rakyatnya menjerit tergilas laju perekonomian yang tidak berpihak pada mereka (rakyat kecil). Si kaya tambah kaya dan si miskin tambah miskin. Sedangkan janji-janji pemerintah tentang pengentasan kemiskinan seolah menjadi uporia saja, padahal perut butuh diganjal nasi bukan basa basi. Tidak heran jika setiap ada pembagian zakat atau daging qurban selalu terjadi kekacauan, masyarakat banyak yang berebut tanpa mempedulikan siapa yang mereka dorong atau injak, demi mendapatkan beberapa lembar puluhan ribu rupiah atau sekantung daging mereka menjadi beringas tidak peduli lagi mana kawan atau saudara. Akibatnya banyak berjatuhan korban hingga korban jiwa. Bukan masyarakat miskin saja yang merasa tertekan akan dampak kerasnya kehidupan dan banyaknya kebutuhan hidup, namun aparat pemerintah pun turut pula resah, sehingga segala upaya pun ...

Buanglah Sampah di Mana Saja

By Omettokun sumber gambar: http://majarimagazine.com Polemik Permasalahan Sampah yang Meradang di Kota Kembang Sebelum terkenal sebagai pusat belanja aneka produk distro dan FO, Bandung terkenal dengan julukan Kota Kembang, karena keindahan kota yang bersih, asri, sejuk, dan tentu saja berbunga. Pada saat ini pun pemerintah kota Bandung telah mencanangkan Bandung sebagai kota yang bermartabat, yaitu kota yang bersih, makmur, dan bersahabat. Dan belum lama ini pemkot juga tengah berusaha menetapkan Bandung menjadi kota yang religious. Dengan segala embel-embel yang diberikan kepada kota ini, seharusnyalah Bandung menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali, baik di mata maupun dirasa. Akan tetapi, beberapa waktu yang lalu Kota Kembang ini pernah menyandang kota sampah karena pemerintah telah gagal dalam menanggulangi sampah, setelah tragedi Leuwi Gajah.

How to Develop Your Reading Skill

By: Omettokun Membaca merupakan kegiatan yang sederhana dan mudah. Siapapun dapat membaca jika ia tidak buta huruf. Akan tetapi, membaca yang benar, memahami benar bahan bacaannya dan menjadikan membaca sebagai kegiatan harian tentu saja tidak semua orang melakukannya, apalagi yang menjadi bahan bacaannya adalah bahasa asing seperti bahasa Inggris. Orang yang hobi baca sekalipun belum tentu ngeuh untuk melahap materi berbahasa asing. Kendati demikian, saat ini penguasaan bahasa Inggris menjadi salah satu kriteria yang harus dikuasai oleh setiap orang, baik secara lisan maupun tulisan. Dengan demikian, bahasa Inggris telah menjadi bahasa yang tidak asing meskipun masih dalam setatus asing.